Ulil Abshar Abdalla mencatut nama ar-Razi, al-Ghazali dan Imam al-Haramain al-Juwaini untuk menyokong sekularisme dan pluralisme
(lihat transkrip wawancara Ade Armando dengan Ulil di sini dan di sini). Sudah sedalam apakah eksplorasi Ulil dengan kesimpulan ini? Bukankah ia mengaku baru saja mulai menggeluti wacana klasik itu?(lihat transkrip wawancara Ade Armando dengan Ulil di sini dan di sini). Sudah sedalam apakah eksplorasi Ulil dengan kesimpulan ini? Bukankah ia mengaku baru saja mulai menggeluti wacana klasik itu?
Sebagai ikon utama jamaah yang membawa bendera pluralisme-sekularisme-liberalisme, Ulil terus mencari legitimasi. Kali ini dia menoleh kepada khazanah klasik Islam yang selama ini dituduh – oleh ia sendiri dan kelompoknya – sebagai penyebab kemunduran umat. Sebelum kita meneliti sejauh mana hasil usahanya, ada baiknya kita lihat kembali apa yang diyakini Ulil dan kawan-kawannya ; keyakinan yang terus dia carikan dalil dan hujjahnya itu.
Ulil dkk. meyakini semua agama sama-sama benar. Ini adalah core ide pluralisme-liberalisme. Keyakinan ini mau tidak mau harus berimplikasi pada struktur keyakinan berikutnya. Kalau semua agama sama, maka konsep tuhan, kitab suci, nabi, syariat, wahyu bahkan sejarah semua agama juga harus sama. Karena semua konsep ini harus sama, maka kebenaranpun harus direlatifkan, biar tidak ada lagi monopoli keyakinan dari beragam agama yang telah ada itu.
Ketika prinsip-prinsip ini diterapkan pada Islam, maka agama tersebut harus merelakan konsep-konsep pokoknya dipreteli. Konsep al-haq, dakwah, mukjizat, amar ma'ruf nahyi munkar, murtad, maksiat, kebatilan, surga, neraka dan lain-lain harus didekonstruksi, dibaca ulang dan direinterpretasi. Setelah melewati proses rekonstruksi ini, nantinya akan didapati sebuah Islam yang jauh berbeda dari bayangan setiap Muslim di dunia, bahkan mungkin sebuah Islam yang tidak pernah dilihat dalam sejarah. Melalui epistemologi radikal tersebut Islam-pun disekulerkan. Agama tidak boleh mengatur hidup masyarakat dan negara. Sebagai gantinya, diambillah filsafat atau worldview barat yang ‘lebih humanis dan universal’.
Kalau diperhatikan, sejak awal Ulil and friends memang sangat teguh memegang prinsip-prinsipnya. Dibanding para pendahulunya, mereka bahkan boleh dibilang jauh lebih ekstrem. Hukum Islam dibongkar, Al-Qur'an di desakralisasi – dihina – ‘diperpornokan’, kemaksuman para Nabi dikritik, hadits-hadits dihina, para ulama dibodohi, hingga lafadz Allah pun diinjak-injak. Kalau dulu para mentor liberal hanya berwacana, kini anak-anak muda itu melakukan gerakan (harakah) dalam bentuk jaringan yang sangat aktif, sistematis dan – tak lupa – dengan pendanaan yang kuat.
Dengan perangkat ide ekstra radikal itu, ditambah track record sedemikian rupa, pantaskah Ulil menemukan ‘rumah’ dalam khazanah Islam klasik? Sebuah ‘uluran tangan’ dari Hujjatul Islam al-Ghazali dan Imam al-Haramain al-Juwaini atau Fakhruddin ar-Razi? Mari kita ukur.
Tiga tokoh ini datang dari tiga masa, antara abad 5-7 H. Mereka adalah tokoh-tokoh Madzhab Asy’ariyah, sebuah genre ilmu kalam yang dikenal kontra dengan filsafat Yunani dan aliran kalam Mu'tazilah. Pendirinya bernama Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H).
Al-Asy’ari memandang kedudukan akal bukan diatas wahyu, melainkan sebaliknya. Dalam masalah agama, harus diimani adanya hal-hal tauqifiyah yang tidak bisa diganggu gugat. Al-Asy’ari menetapkan Al-Qur'an sebagai kalamullah yang bersama hadits menjadi sumber pokok agama (lihat Kitab Fii Ilmi Al-Kalam Jilid 2 hal 140-142). Saat ini madzhab Asy’ariyah adalah aliran aqidah yang paling banyak pengikutnya di dunia Islam. Imam al-Ghazali adalah tokoh Asy’ariyah yang paling berpengaruh. Sumbangan beliau dalam pemikiran Islam sangat mahal. Salah satunya adalah kritik terhadap filsafat Helenis melalui masterpiecenya Tahafut Al Falasifah (kerancuan kaum filsafat).
Dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, bagian Qawaid Aqidah, al-Ghazali menetapkan makna Islam adalah agama yang membuat pemeluknya masuk surga dan keluar dari neraka. Disebutkan disana, tingkat keenam dalam persoalan iman adalah orang yang mengucapkan syahadat tapi hatinya ingkar. Menurutnya, orang semacam ini kafir dan keluar dari agama. Al-Ghazali memang membuat klasifikasi keimanan, tapi klasifikasi ini berkaitan dengan derajat keimanan itu sendiri mulai dari yang imannya sempurna, fasik, hingga yang kafir. Artinya, kalaupun ada orang tidak sampai kafir, setidaknya orang ini imannya tidak sempurna seperti imannya orang yang fasik. Disini, al-Ghazali tidak menyebut-nyebut Mu’tazilah atau Syiah.
Ini berbeda dengan klaim Ulil. Menurutnya, al-Ghazali membuat kerangka empat tingkat keimanan yang menjadikan sekte apapun (Asy’ariah, Mu’tazilah dan Syi’ah) tetap Muslim sehingga timbul kesan semuanya sama-sama benar. Ini sungguh aneh. Pertama, tingkatan al-Ghazali ada enam, bukan empat, dan yang keenam adalah orang kafir. Kedua, di bagian mana dia menyebut sekte-sekte itu? Disana tidak ada. Kemudian ketiga, kalau semuanya sama, mengapa al-Ghazali keras membela Asy’ariyah dan keras menyerang Mu’tazilah? Sulit rasanya untuk tidak menganggap Ulil telah berlaku distorsif. Dalam kitab Tahafut Al Falasifah, al-Ghazali menyamakan sebagian pendapat filosof dengan kaum Mu’tazilah. Kelompok Mu’tazilah ini, memang tidak dia anggap tegas kafir, tapi secara tegas al-Ghazali mengatakan bahwa mereka adalah ahli bid’ah yang sesat (lihat khatimah dari Tahafut Al Falasifah).
Ulil juga mengatakan bahwa al-Ghazali membuat empat kemungkinan penafsiran terhadap hari kebangkitan, yaitu fisikal, mental, spiritual dan imajinatif. Menurutnya, dengan empat penafsiran ‘ala al-Ghazali’ ini, beliau menoleransi apapun bentuk iman pada hari kebangkitan. Jelas di sini bahwa Ulil ingin mengesankan al-Ghazali sebagai seorang pluralis.
Secara tegas saya katakan Ulil keliru. Empat penafsiran itu adalah pendapat ahli filsafat, bukan perkataan al-Ghazali (lihat bab ke 17 dalam Tahafut Al Falasifah). Ulil salah paham. Perhatikan, setelah mengurai empat jenis penafsiran atas kebangkitan tersebut, al-Ghazali berkata, "Hadza madh-habuhum" (ini adalah pendapat mereka), yaitu para filosof. Setelah itu al-Ghazali membantah pendapat mereka. al-Ghazali menegaskan kekufuran para filosof yang menganggap hari kebangkitan hanya menimpa ruh dan tidak dibangkitkannya jasad sehingga balasan di hari akhir – baik kenikmatan atau siksaan – hanya akan menimpa ruhnya saja.
Berdasarkan kenyataan ini, silahkan pembaca menilai sendiri pernyataan distorsif Ulil mengenai Imam Al-Ghazali :
"Jadi saya mempelajari bagaimana Al-Ghazali mendekati masalah pluralisme dengan cara ilmiah dan solid, dengan mendasarkan diri pada tradisi Islam".
Sungguh keterlaluan!
sumber : ahmad rofiqi
wassalaamu’alaikum wr. wb.
o mengikis gulma liberalisme dari tradisi islam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan masukan komentar anda