o Ilmu mukasyafah biasa disebut ilmu bathin adalah puncaknya ilmu para pencari.

Ilmu mukasyafah biasa disebut ilmu bathin adalah puncaknya ilmu para pencari. Biasanya yang memiliki ilmu ini adalah kaum shidiqin yaitu orang yang benar-benar tulus menghambakan dirinya kepada Allah serta kaum muqarabbin yaitu mereka yang didekatkan ke hadirat Allah. Ia adalah cahaya yang terbit di hati seseorang, apabila telah menyelami pensucian dan penjernihan (tadikiyyah) dari segala sifat yang tercela.

Meminjam istilahnya Ibnu Arabi, muskasyafah adalah terbukanya selubung alam barzakh. Proses terbukanya selubung alam malakut disebut musyahadah dan untuk terbukanya selubung alam wahidiyah disebut mu’ayana.

Dalam sufisme, proses tersingkapnya tirai penerimaan nur gaib dalam hal seseorang mediator disebut al hal, yaitu proses penghayatan gaib yang merupakan anugerah Tuhan dan diluar adi kuasa manusia. Menurut sufi, jika mata (bashar) hanya mampu mengindra jarak dekat (hijab) maka pandangan bashirah (mata bathin) mampu mengetahui obyek yang jauh dang menyingkapkan kotoran dan hijab.

Bagi orang awam, yakni bukan sufi, seperti kita ini, tertib istilah justru penting.

Pertama, istilah sufi adalah sebentuk "pemadatan" sebuah pengalaman (dzawq), dan karenanya, makna sesungguhnya hanya bisa dipahami oleh mereka yang sederajat, atau setidaknya pernah mengalami apa yang dirujuk dalam istilah itu. Tetapi, karena sufi tidak hanya berbicara kepada sesama sufi, maka mereka terpaksa menggunakan sebentuk simbol, yakni istilah, untuk mendeksripsikan kepada orang selain sufi mengenai apa maknanya. Jadi, bagi orang awam, adalah tidak valid jika kita menggunakan istilah sufi bukan dalam konteksnya - sebab, pada level wacana dan diskursus intelektual, tertib istilah mesti dihormati. JIka tidak, untuk apa sufi susah-susah menyuusun istilah tersendiri?

misalnya, jika saya bicara fana, maka kita bicara sebagai "orang luar" sebab saya belum pernah mengalami fana. Bahwa ada cabang-cabang fana, itu benar. Tetapi, sebagai orang luar,kita tidak bisa semaunya sendiri menggunakan istilah ini untuk tafsir subyektif kita. maka, kehati-hatian dibutuhkan dalam memahami fana ini, setidaknya di tingkat intelektual.

Dalam diskursus intelektual, kita harus punya argumen (hujah) yang kuat. Sebuah pengalaman fana sesungguhnya amatlah subyektif,dan meta- empiris, dan karenanya,pada hakikatnya, tak bisa dideksripsikan. Tetapi pembahasan fana oleh orang luar bukan berarti sia-sia, selama kita menghormati kaidah-kaidah yang berlaku di dalam kajian tasawuf.

Misalnya, ada banyak definisi "tasawuf" atau "sufi." Dan kita bisa mengatakan, kalau begitu, sufi tidak bisa didefinisikan secara pasti. Pernyataan ini benar, tetapi bukan berarti keragaman definisi itu lantas menegasikan tertib-makna istilah. Inilah resiko jika kita mulai masuk ke pembahasan lewat kata-kata. Menyusahkan memang, tetapi itu mesti dilalui, agar tidak terjadi kesalahan. Maka, sesungguhnya, kita tidak bisa mendiskusikan lewat kata-kata soal, misalnya seperti disebut mas Verry, tentang siapa yang masuk dalam fana,setan atau malaikat. Ini diluar jangkauan wacana intelektual. Yang bisa kita lakukan,paling banter, adalah memahami konsep dasar fana, atau baqa. Ini adalah daerah tapal batas antara dimensi empiris dan nonempiris,dan karenanya kita mesti sedikit hati- hati.

Maka yg bisa didiskusikan adalah,misalnya,mengapa sufi punya konsep fana yang berbeda?

Bagaimana penjelasan filosofisnya? dan seterusnya.

Tentu saja, model penjelasan seperti ini akan terus bersifat spekulatif, kecuali kita mengalami sendiri fana itu. Jadi, dalam diskusi fana,misalnya,kita tidak perlu bertanya-tanya, pengalaman apa yang dirasakan? apa yang dijumpai? Itu tidak perlu, kecuali kita benar-benar total masuk ke dunia tasawuf. JIka kita sekedar membahas kulitnya, maka memahami konsep dasar fana itu sudah cukup, dan itupun tidak semudah yang kita bayangkan.

MIsalnya, jika kita membaca Qusayiri, Hujwiry,Ibn Arabi, dan Jilli, kita akan jumpai banyak konsep tentang fana, beserta derivasinya. Tetapi jika kita membaca kitab tarekat, misalnya naqshabandi, qadiriyah, chistiyyah, fana itu akan selalu dikaitkan dengan sebentuk proses, bukan hasil.

urutan2an fana fi syaikh, fi rasul dan fi ALlah, misalnya, adalah sebagian kecil saja dari gambaran tentang fana fi Allah. Jadi, jika kita membatasi pembahasan kita pada tapal batas ini, membaca buku barangkali sudah cukup. debat tidak masalah.

Tetapi jika kita ingin masuk sepenuhnya, bukan sekedar paham secara intelektual,tetapi juga paham secara sirriy, (hakikat-ma'rifat) maka, barangkali, kita harus tinggalkan dulu diskusi intelektual kita, setidaknya untuk sementara. salam triwibs salam triwibs --- I

Tulisan saya disarikan dari buku Ibnu Arabi (Futuhat Al makiyah) dan detail
dari buku ensiklopedi tasawuf, bisa jadi info tersebut ada unsur subyektif.

sepengetahuan saya mukasyafah bukan ilmu batin. mungkin saya salah. tetapi mukasyafah bermakna "pembukaan hijab" - bukan pembukaan selubung alam barzakh. Alam barzakh adalah bagian dari alam ghaib, atau dari perspektif emanasi atau martabat tujuh, ia kadang disebut alam mitsal - alam di mana yang material "dispiritualkan" dan yang spiritual "dimaterialkan." Ini adalah alam "imajinasi kreatif" menurut tradisi Ibn Arabi. alam wahidiyah, atau alam persatuan adalah gradasi dari emanasi ilahi (faid al-aqdas) - sebelumnya ada alam ahadiyyah, wahdah, wahidiyyah, (yang berkaitan dengan konsep Nur Muhammad), ruh, alam ajsam dan seterusnya. juga, saya jadi bingung ketika dikatakan ilmu mukasyafah adalah puncaknya ilmu para pencari

Dulu dalam diskusi bertahun-tahun lampau di milis ini mas Hery Mardian pernah mengatakan pentingnya "tertib" istilah ketika membicarakan tasawuf. Rasanya peringatan mas Hery amat relevan di sini. mukasyafah, misalnya, dalam arti umum adalah pembukaan mati batin. tetapi, apakah mukasyafah ini sama dengan futuh, yg juga berarti pencerahan/pembukaan? Banyak sufi justru mengisyaratkan agar berhati-hati ketika mukasyafah datang menghampiri,sebab boleh jadi mukasyafah adalah sebentuk "istidraj." Ada beberapa keberatan jika dikatakan mukasyafah adalah puncak ilmu. Pertama, Tidak semua sufi yang mukasyafah berarti telah mencapai puncaknya ilmu para pencari.

Sebagaian pemerhati tradisi keilmuan Islam menganggap bahwa ladunnî adalah atribut spiritual yang hanya dapat diwarisi oleh keluarga-keluarga tertentu dari seorang ayah dengan prestise sosial khusus (kyai), sebagaimana Zamakhsyari Dhofier memberikan penjelasan dalam bukunya: “kebanyakan gus dianggap mempunyai ilmu ladunnî, yaitu suatu kemampuan untuk menguasai berbagai cabang pengetahuan Islam tanpa harus mempelajarinya. Dengan kata lain, Tuhan memberkahi para gus dengan pengetahuan Islam semenjak mereka dilahirkan[1][1]".

Kalangan praktisi lainnya berpendapat lebih terbuka -meskipun masih menyimpan kesan ‘legitimasi Sang Pencipta’- dengan mengesampingkan sebab-sebab yang mungkin dapat diusahakan manusia. Sebagaimana pendapat yang dikutip oleh DR. M. Solihin, M.Ag. dari imam al-Harawi: “ladunnî adalah ilmu yang dilimpahkan oleh Allah kedalam hati tanpa ada sebab yang dilakukan oleh seorang hamba dan tanpa menggunakan dalil-dalil[2][2]".

Al-Ghazali dalam beberapa karyanya yang lain, seringkali mencoba memberikan kepuasan tentang pertanyaan-pertanyaan seputar ladunnî. Namun jarang sekali penjelasannya diungkapkan secara terbuka, bahkan beliau masih terlihat agak gerah ketika harus menguraikan sedikit pengertian tentang ke-linuwihan mukâsyafah¬ ini lebih lanjut.

Dalam kitab ihya’ misalnya, Al-Ghazali malahan menambahkan kalimat-kalimat bernada negatif sehingga membuat sebuah penjelasan yang sebelumnya mulai beranjak terang menjadi kembali abstrak. Kalimat-kalimat itu seperti ungkapannya: “ilmu-ilmu ini (mukâsyafah / ladunnî) tidak pernah tertulis dalam lembaran kitab, serta manusia yang dianugerahi Allah ladunnî tidak pernah membicarakan sesuatu darinya kecuali dengan sesama ahlinya[3][3]."

Mungkin karena merasa penjelasan yang diberikan kurang maksimal sehingga besar kemungkinan respon pembaca tidak seperti yang ia harapkan, al-Ghazali bahkan melemparkan pernyataan bernada menyudutkan: “resiko minimal akibat memungkiri keberadaan ilmu ini ialah; tidak mengecap sedikitpun sesuatu dari ladunnî[4][4]."

Kita sangat beruntung, al-Ghazali berkenan menulis secara khusus "Risâlah al-Ladunniyah", sebuah karya monumental yang mengulas secara tuntas problematika ladunnî serta segala bentuk permasalahan yang mempunyai keterkaitan dengannya.

Memang, satu-satunya jalan untuk mencapai kepuasan mutlak hanyalah keterlibatan secara langsung dengan ilmu yang bersangkutan (menguasai ladunnî). Namun setidaknya Risâlah al-Ladunniyah ini telah sanggup menghapus dahaga keingintahuan dalam ujud tekstual, karena kesegaran warta yang dibawa Ghazali setelah petualangannya bergelut dengan dunia sufi juga pengakuannya telah merasakan mukâsyafa [5][5]. Disisi lain, berita yang sampaikan Risalah al-Ladunniyah ini sulit disangkal keaktualan dan ketajamannya, mengingat bahwa al-Ghazalai merupakan figur yang dikultuskan, serta sangat menguasai berbagai bidang pengetahuan. 999 karyanya membentang luas meliputi persoalan-persoalan fiqh, ushûl fiqh, logika, pengobatan, etika, filsafat, psikologi, tasawwuf, politik, sosial sampai kepada anekdot dan keampuhan rajah juga khasiat mantra-mantra.

Boleh dikatakan bahwa; Risâlah al-Ladunniyah adalah cermin kepribadian penulisnya. Disini, wajah -ilmiah- blesteran Ghazali yang diperoleh dari buah perkawinan silang berbagai dedikasi disiplin ilmu, begitu kentara. Ghazali tampak begitu berbeda dari penampilan biasanya. Bahasa asing yang jarang terucap dari lisan seorang Faqîh atau Sufi, justeru mendominasi hampir separuh Risâlah ini.

Demi kenyamanan anda dikala membaca karangan ini, saya rasa keberadan kamus filsafat sangat diperlukan (dalam hal ini saya menyarankan "A Dictionary of Muslim Philoshophy" karya Sa'id Syaikh, atau "Kamus Filsafat Islam" karya Machnun Husein), sebab istilah-istilah seperti 'Aradl (aksiden), Jawhar (substansi), Rasm (deskripsi) serta istilah-istilah filosofi lainnya, begitu kental terasa dan akan sangat mengganggu jika anda tiba-tiba lupa atau belum mengerti artinya.



________________________________________


[1][1] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1994, hlm. 69


[2][2] DR. M. Solihin, M.Ag. Epistemologi Ilmu Dalam Sudut Pandang Al-Ghazali, Bandung, CV Pustaka Setia, 2001, hlm. 67


[3][3] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulûm ad-Dîn, Bairut, Dar al-Fikr, 1995, juz. 1 hlm. 34


[4][4] Al-Ghazali, Ihya’, juz. 1 hlm. 33


[5][5] Lihat: Al-Ghazali, Al-Munqidz min Adl-Dlalâl dalam Majmû’ah Rasâ’il al-Imâm al-Ghazâlî, Bairut, Dar al-Fikr, 1996, hlm. 554

MUHADHARAH, MUKASYAFAH DAN MUSYAHADAH


MUHADHARAH BERARTI KEHADIRAN QOLBU, setelah itu baru MUKASYAFAH, yakni kehadiran hati (qolbu) dengan sifat nyatanya, lalu MUSYAHADAH, yaitu hadirnya Al-Haq tanpa dibayangkan. Apabila langit rahasia (sirri) telah bersih dari mega sitr, maka matahari penyaksian terpancar dari bintang kemuliaan.
Kebenaran Musyahadah seperti yang diungkapkan oleh al-Junayd r.a “Wujud Al-Haq menyertai kesirnaanmu. Orang yang bertahap Muhadharah selalu terikat dengan ayat-ayat-Nya. Dan orang yang Mukasyafah terhampar oleh sifat-sifat-Nya, sedangkan orang yang Musyahadah ditemukan Dzat-Nya. Orang yang muhadharah ditunjukkan akalnya. Orang yang Mukasyafah didekatkan ilmunya. Dan orang yang musyahadah dihapuskan oleh ma’rifatnya.
Amr bin Utsman al-Makky r.a mengatakan bahwa cahaya-cahaya yang melingkupi qolbunya, tanpa adanya tutup dan faktor yang memutus di celahnya. Sebagaimana perkiraan dalam kilatan yang bersambung. Seperti malam yang gelap dilampaui cahaya, dan cahaya itu tidak terputus,maka terjadilah cahaya siang. Begitupun qolbu, apabila keabadian Tajalli tampak terus-menerus, akan menjadi siang yang nikmat, tiada malam sama sekali.
Para sufi bersyair:
Malamku, dengan Wajah-Mu terang benderang
Dan kegelapannya merambah manusia
Manusia berada dalam kegulitaan,
Sedang kami ada di cahaya benderang siang
“Seorang hamba tidak sah ber- musyahadah sepanjang masih hidup, Apabila subuh telah terbit tak perlu lagi lampu” (An-Nury)
ketika terang subuh tiba, beredarlah cahayanya, dengan cahayanya
cahaya-cahaya gemerlap bintang,
cahaya tertelan gelas,
jika saja tertimpa bara karena menelannya
terbanglah secepat-cepatnya.

Mereka berjalan, namun tidak tetap, tidak teratur dan tidak ada pengaruh.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan masukan komentar anda