o Fushusul Hikam, sebuah kajian

Keberhasilan Ibn Arabi dari doktrin tasawufnya adalah kemampuannya untuk keluar dari pemahaman agama yang dogmatis dan literalis.

Bagi Ibn Arabi, semua ajaran agama dalam Alquran maupun Hadis adalah bentuk dari simbol-simbol kebijaksanaan Tuhan yang harus terus-menerus digali.
Orang mengenalnya sebagai Ibn Arabi. Ia adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Ali Ibn Arabi , digelari Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibn Arabi. Lahir di Mursia, Andalusia, Spanyol, tahun 560 H/1165 M, dan meninggal di Damaskus, Syria, tahun 638 H/1240 M. Ia adalah sufi yang sangat besar pengaruhnya dalam kajian sufisme hingga saat ini. Ia telah menulis 289 buku dan risalah. Bahkan menurut Abdurrahman Jami, ia telah menulis 500 buku dan risalah. Sedangkan menurut al-Sya’rani, karya Ibn Arabi berjumlah 400 buah. Tiga karya Ibn Arabi yang paling terkenal, dan tak hentinya-hentinya dikupas orang, yaitu adlah Fushûshul Hikam, al-Futûhat al-Makkiyyah dan Turjumânul Asywâq.

Dari sekian judul kitab yang telah ditulis Ibn Arabi, terdapat kitab yang merupakan intisari ajaran tasawufnya, yaitu Fushusul Hikam. Kautsar Azhari Noer, salah seorang ahli Ibn Arabi di Indonesia, menyebut kitab Fushus ditulis pada masa kematangan intelektual Ibn Arabi, yaitu 627/1230 atau sepuluh tahun sebelum wafatnya.
Menurut pengakuan Ibn Arabi sendiri, kitab ini merupakan pemberian nabi Muhammad kepadanya melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut, Nabi mengatakan “Ini kitab Fushus Al Hikam. Ambil dan sebarkan kepada umat manusia agar mereka mengambil manfaat darinya.” Berdasarkan cerita itu, tampak bahwa Ibn Arabi meyakini sepenuhnya bahwa apa yang ia tuliskan dalam kitab tersebut merupakan ilham ilahi. Ia hanyalah mesin pencetak bagi kitab Fushus yang diberikan Nabi.
Meski sulit diverifikasi kebenarannya, tetapi pengakuan ini telah menyihir ribuan pengikut syaikhul akbar ini untuk meyakininya. Bahkan kitab yang merupakan intisari ajaran sufisme Ibn Arabi ini telah memecahkan rekor sebagai kitab paling banyak mendapatkan komentar (syarah) dari para pengikutnya. Tetapi semua pembaca karya-karya Ibn Arabi mengakui, hampir seluruh karya Ibn Arabi sangat sulit dipahami, tidak terkecuali Fushushul Hikam.
Kesulitan paling utama dalam membaca karya Ibn Arabi adalah memahami simbol-simbol dan terma-terma paradoksikal yang digunakannya. Simbol-simbol itu terlihat sekali dalam hampir semua karya-karyanya. Dalam Fushus, ia menyajikan gagasannya melalui pengungkapan hikmah atau kebijaksanaan 27 orang nabi. Nama fushus sendiri diambil dari akar kata fasshun yang artinya tatakan atau wadah batu permata pada cincin. Fushus adalah bentuk plural dari kata fasshun. Sementara hikam adalah bentuk jamak dari hikmah yang berarti kebijaksanaan. Jadi, fushusul hikam adalah wadah kebijaksanaan. Dengan ukiran nama yang disematkan pada kitab tersebut, Ibn Arabi berupaya menampilkan simbol-simbol kebijaksanaan dari para nabi yang hakikatnya merupakan kalimat atau manifestasi sifat Tuhan. Ia memulai pembahasan kitabnya dengan mengupas mutiara kenabian dari Adam hingga Muhammad.
Adam, menurut Ibn Arabi adalah citra kesempurnaan Tuhan. Melalui Adamlah Tuhan memanifestasikan sifat ketuhananan-Nya. Ibn Arabi menganggap bahwa Tuhan pada mulanya adalah entitas yang tersembunyi (kanzun makhfiyy). Ia menampakkan diri ketika menciptakan alam. Tetapi penciptaan alam menurut Ibn Arabi bukanlah bermula dari sesuatu yang kosong, creatio ex nihilo. Alam mengada begitu Tuhan ada. Karena, alam semesta adalah cerminan Tuhan. Sebagaimana pantulan gambar dalam cermin, maka gambar itu ada ketika wujud yang hakiki ada. Pandangan Ibn Arabi tentang alam ini sebenarnya mirip dengan pandangan para filosof yang menganggap alam itu sebagai sesuatu yang azali.
Sementara ajaran nabi Nuh dimaknai Ibn Arabi sebagai simbolisasi dari problem dualisme tasybih dan tanzih. Dalam Qur’an disebut bahwa Nuh berdoa: ”Qala rabby inny da’autu qaumy lailan wanaharan” (Surah Nuh:5). Ibn Arabi memaknai lailan dalam ayat ini dalam maknanya yang esoterik (tanzih), dan naharan denganmakna eksoterik (tasybih). Pada akhirnya, Nuh dinilai Ibn Arabi lebih mengutamakan ajaran tanzih atau penyucian Tuhan dari penyerupaan Tuhan dengan patung yang dilakukan umatnya kala itu. Sementara ajaran Isa dalam Kristen lebih cenderung pada penyerupaan atau tasybih. Dualitas semacam inilah yang dikritik Ibn Arabi. Menurutnya, Tuhan tidak bisa dilihat secara imanen melalui tasybih saja atau secara transenden melalui tanzih saja. Dalam sebuah syair ia katakan:
“Bila engkau nyatakan transenden (murni), engkau telah membatasi Tuhan. Dan bila engkau nyatakan imanen (murni), maka engkau telah mendefinisikan Tuhan.”
Dalam bagian lain dari kitab Fushus, Ibn Arabi juga mentamsilkan hubungan antara Tuhan dan manusia dengan mengutip kalimah muhaimiyyah dari Ibrahim. Ibrahim adalah simbol keakraban manusia dengan Tuhan. Melalui firmannya Tuhan mengangkat Ibrahim sebagai seorang khalil, atau sahabat karib. Tetapi makna khalil sebenarnya lebih dari sekadar persahabatan. Sahabat karib, menurut Ibn Arabi, masih menyiratkan keterpisahan. Sementara al-khall adalah percampuran. Oleh karenanya hubungan manusia dengan Tuhan juga sudah sangat erat dan telah bercampur dalam satu esensi. Karena makhluk menurut Ibn Arabi sesungguhnya adalah al-haqq dan al-khalq sekaligus.
Tetapi yang menjadi ciri khas Ibn Arabi dalam hampir semua karyanya adalah selalu menampilkan gagasan keagamaan yang tidak lazim. Karenanya, selama hidupnya tak jarang ia mendapat perlawanan dan kecaman dari berbagai kalangan, terutama kelompok ahli fikih yang terkenal literalis dan formalis.

Keberhasilan Ibn Arabi dari doktrin tasawufnya adalah kemampuannya untuk keluar dari pemahaman agama yang dogmatis dan literalis. Bagi Ibn Arabi, semua ajaran agama dalam Alquran maupun Hadis adalah bentuk dari simbol-simbol kebijaksanaan Tuhan yang harus terus-menerus digali. Bahkan menurutnya, kebijaksanaan Tuhan yang disampaikan melalui wahyu itu tak terputus hingga sekarang. Wahyu bagi Ibn Arabi bukanlah sekadar proses inzal (turunnya) sebuah ayat dari Tuhan melalui Jibril. Tapi lebih dari itu, wahyu baginya adalah proses imajinasi kreatif manusia yang mencari kebenaran Tuhan.
Semangat untuk keluar dari pemahaman agama yang kaku dan dogmatis inilah yang harus terus dikembangkan dalam khazanah keilmuan Islam saat ini. Ibn Arabi dengan petualangan spiritualnya telah memberi contoh yang sangat baik. Artinya, memahami Ibn Arabi bukanlah berhenti pada pemahaman ajaran-ajarannya yang rumit itu. Yang jauh lebih penting untuk terus-menerus dikembangkan adalah semangat perenungan dan petualangannya yang tak pernah berhenti.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan masukan komentar anda